diobrolin.com

Indonesia Ngobrol, Ngobrolin Indonesia

JAKARTA - Selain merekomendasikan hukuman mati bagi koruptor kambuhan dan koruptor kelas kakap, Musyarawah Nasional (Munas) Alim Ulama NU 2012 di Cirebon (14-18 September) juga mengingatkan agar dana hasil korupsi dikembalikan kepada negara, meskipun pelakunya telah meniggal dunia.

Pada komisi bahtsul masail diniyyah al-waqiiyyah, para kiai dan ahli fikih dari berbagai daerah membahas pertanyaan dari masyarakat mengenai ”bagaimanakah hukum memeriksa kekayaan yang diduga hasil korupsi, sedangkan tersangka pelaku telah meninggal dunia?”

Berdasarkan berbagai penjelasan dan argumentasi yang dikutip dari para ulama madzab dalam berbagai referensi kitab kuning, Munas memutuskan bahwa memeriksa kekayaan yang diduga hasil korupsi adalah wajib, meskipun tersangka pelaku telah meninggal dunia.

Mengutip penjelasan dari kitab Az-Zawajir Aniqtirafil Kabair yang antara lain menjelaskan mengenai dosa-dosa besar, disebutkan bahwa dosa-dosa manusia (anak Adam) tidak akan terampuni jika dia masih mempunyai tanggungan di dunia atas hak-hak orang lain (haqqul adami), dalam hal ini berkaitan dengan harta korupsi.

Pesan ini terutama ditujukan kepada para ahli waris. Bukan saja pewaris yang meninggal dunia tersebut masih mempunyai beban dosa di akhirat, namun harta benda yang akan diwarisi oleh para ahli waris juga merupakan harta yang haram.

”Apabila terpenuhi bukti bahwa harta tersebut adalah hasil korupsi, maka wajib dikembalikan kepada negara dan untuk membersihkan harta warisan dari harta haram,” demikian keputusan Munas.

Para ahli waris bukan saja diingatkan untuk mendoakan agar dosa-dosa yang meninggal dunia terampuni, tetapi harus menyelesaikan tanggungannya selama ia hidup.

Dalam bahtsul masail itu, para kiai juga membahas, ”apakah hasil korupsi wajib dikembalikan seluruhnya meskipun telah ditetapkan hukuman bagi pelakunya?”

Jawabannya: Seluruh harta hasil korupsi wajib dikembalikan ke negara meskipun pelaku telah menjalani hukuman. Sumber: NU Online

”Menulis itu gampang”. Demikianlah kata-kata pertama yang disampaikan dalam pelatihan Jurnalistik yang digelar oleh NU Jombang Online bekerja sama dengan IPNU-IPPNU Cabang Jombang pada Ahad (24/04/11).

Kata pembuka yang cukup memberikan cerah pikiran untuk memulai menulis tersebut disampaikan oleh Muslimin Abdilla, fasilitator pelatihan. Lebih lanjut dia mengatakan bahwa, Jika kita akan memulai menulis, dengan perasaan dan pikiran: ”menulis itu sulit”, maka kita akan betul-betul kesulitan dalam memulai menulis. Namun jika sebelum menulis dipikiran kita dicamkan: ”menulis itu gampang”, maka hambatan pertama dalam menulis sudah kita atasi.

”Segala hal itu dimulai dari pikiran kita, jika sebelum menulis pikiran kita sudah mengatakan menulis itu sulit, maka sebelum menulis kita sudah dihambat oleh pikiran dan perasaan kita sendiri. Karena itu pikiran kita harus kita bebaskan dengan terlebih dahulu mencamkan bahwa, menulis itu gampang” kata pria yang aktif mendorong kalangan muda NU untuk menulis itu.

Dalam latihan yang diikuti oleh sekitar 60 orang perwakilan PAC seluruh Jombang, utusan dari Pondok Pesantren tersebut dibuka oleh Yusuf Suharto, Pemred NU Jombang Online. Dalam kata pembukaanya sekretaris PC Pergunu Jombang ini menyampaikan pengalamannya dalam menulis, khususnya dalam menulis berita.

”Pada saat saya pertama kali menulis berita di NU Online dan dimuat, saya merasa bangga, dan berita tersebut saya tempel di kantor NU biar banyak orang yang tahu. Dari kebanggaan tersebut kemudian muncul semangat untuk terus menulis,” kata pria berkacamata tersebut

Latihan yang dilaksanakan di lantai II kantor PCNU Jombang tersebut dilaksanakan untuk mencetak jurnalis muda dari NU Jombang, dan secara khusus para peserta akan menjadi kontributor NU Jombang Online yang akan memberikan kontribusi berita atau tulisan dari MWC se Jombang.

Pada latihan jurnalistik kali ini hanya dibicarakan tentang menulis berita dengan teknik yang paling mudah. Untuk selanjutnya jika tindak lanjut kegiatan ini bisa berjalan baik, maka akan dilakukan pelatihan lanjutan berupa latihan menulis berita secara lebih dalam dan teknik menulis artikel dan lain-lain.

Tawassul dengan Gus Dur

- Posted in Viral by

Peringatan 1.000 hari KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang diisi dengan pembacaan doa tahlil dan taushiyah dari para ulama telah berlangsung dan dihadiri ribuan, bahkan puluhan ribu jamaah. Kita tentu tidak akan menanggapi pertanyaan kalangan ‘anti bid’ah’ tentang kenapa harus 1.000 hari, apakah ada perintah resminya dalam Islam.

Faktanya, peringatan 1.000 tidak hanya diselenggarakan di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, tempat dimakamkannya seorang tokoh besar NU ini, tetapi juga di Ciganjur Jakarta dan di beberapa daerah di Indonesia, bahkan di luar negeri.

Agak aneh memang, dalam tradisi NU biasanya peringatan tahunan (haul), atau peringatan 1.000 hari wafatnya seseorang selalu diiringi dengan ritual ziarah kubur atau berdoa di makam. Antusias masyarakat yang tidak sempat ke Tebuireng untuk mendoakan dan memperingati Gus Dur dari tempat masing-masing membuat keluarga besar NU turut merasa bangga. Tidak hanya kaum santri atau warga nahdliyin, peringatan 1.000 hari juga dilakukan secara resmi oleh sejumlah pemerintah daerah, bahkan kalangan seniman pun turut mendoakan presiden ke-4 RI ini dengan cara mereka sendiri.

Kenapa Gus Dur perlu didoakan? Kenapa perlu mendoakan ulama atau tokoh yang sudah cukup banyak berbuat kebajikan di dunia? Para kiai biasanya memberikan analogi sederhana: Ibarat gelas yang sudah terisi penuh, jika gelas itu terus diisi maka airnya akan meluber ke tempat sekelilingnya; akan memberkahi para jamaah yang berdoa.

Dalam salah satu ajaran kiai NU dikenal istilah tawassul, atau berdoa dengan perantara. Misalnya, dalam setiap pembacaan tahlil, surah Yasin atau Al-Fatihah selalu diniatkan bahwa pahala dari semua itu akan dihadiahkan kepada ahli kubur yang sedang didoakan. Maksudnya sebenarnya adalah agar Allah SWT juga akan memberikan hadiah pahala kepada orang yang mendokan itu.

Sesuatu yang menjadi perantara dalam doa disebut wasilah. Wasilah ini bisa berupa amal baik dan bisa berupa orang; baik yang masih hidup (dengan cara minta didoakan) atau yang sudah meninggal (dengan mendoakannya). Orang yang bisa menjadi wasilah adalah para nabi, wali, serta orang-orang saleh. Dan agaknya Gus Dur telah menjadi bagian dari orang yang diyakini pantas menjadi wasilah dalam berdoa.

Lebih dari sekedar berdoa. Peringatan haul, 100 hari atau 1000 hari, adalah dalam rangka mengenang jasa-jasa seseorang yang telah meninggal dunia, mencontoh berbagai keteladanannya selama hidup, dan meneruskan semua perjuangan yang telah dirintis.

Gus Dur memang tokoh kontroversial. Namun di balik semua kontroversi itu, ia mempunyai simpatisannya sendiri. Bayangkan, seorang santri pesantren yang sangat kolot, dan seniman atau aktivis sosial yang cukup radikal bisa mempunyai satu tokoh idola. Seorang kiai kampung dan seorang negarawan yang perlente juga satu punya idola, Gus Dur.

Kita memang tidak perlu mengagung-agungkan seorang Gus Dur yang sudah meninggal dunia. Namun bagi para Gusdurian, sama saja berguru kepada Gus Dur pada saat ia hidup atau ketika sudah meninggal. Bahkan ketika sulit diketemukan guru yang pantas menjadi teladan, maka berguru kepada yang sudah meninggal itu pun lebih baik. Sumber: NU Online