diobrolin.com

Indonesia Ngobrol, Ngobrolin Indonesia

JAKARTA - Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor menggelar Pelatihan Kader Nasional (PKN) selama lima hari. PKN Angkatan II ini mengambil tempat di Pondok Pesantren Alhamid, jalan Cilangkap Raya nomor 1, Jakarta Timur.

“PKN berlangsung sejak hari ini, tanggal 11-15 Oktober 2012,” kata Yanto, staf sekretariat PP GP Ansor kepada NU Online di lorong lobi kantor PP GP Ansor, jalan Kramat Raya nomor 65 A, Jakarta Pusat, Kamis (11/10) siang.

Peserta PKN Angkatan II akan diikuti sedikitnya sembilan puluh orang, tambah Yanto. Peserta terbanyak berasal dari utusan PW Ansor di seluruh Indonesia. Setiap PW Ansor mengirim utusannya maksimal dua orang.

Sejumlah pengurus pusat GP Ansor juga tercatat sebagai peserta PKN kali ini. Sebagian dari pengurus pusat itu ada yang hanya mengulang materi tertentu PKN seperti materi Aswaja, karena mereka belum lulus dalam materi tersebut pada PKN Angkatan I, Februari lalu di Cilayamaya, Karawang.

Peserta PKN akan diberangkatkan pukul 14.00 siang ini. Dengan bus yang disediakan, sembilan  puluh peserta meluncur dari kantor PP GP Ansor menuju lokasi PKN Angkatan II di Jakarta Timur.

Saat NU Online mendatangi kantor PP GP Ansor, Yanto mengabarkan bahwa dua peserta perwakilan Ansor Lampung sudah tiba di Jakarta. Menunggu jadwal keberangkatan rombongan, keduanya memilih beristirahat di aula kantor PP GP Ansor, tutur Yanto.

PKN GP Ansor Angkatan III segera menyusul di akhir tahun ini. PKN Angkatan III kemungkinan akan digelar pada bulan November atau Desember mendatang, pungkas Yanto.  Sumber: NU Online

Saling Mengkafirkan, Bibit Terorisme

- Posted in Viral by

SEMARANG - Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H As’ad Said Ali mengatakan, salah satu cara mencegah terorisme adalah meniru cara ulama NU dalam mendidik umat. Para ulama NU tidak ekstrim, menjauhkan diri dari sikap merasa benar sendiri dan anti radikalisme.

Hal tersebut disampaikannya dalam acara Koordinasi Penanggulangan Terorisme yang diselenggarakan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNNPT) bersama Muslimat NU dan beberapa organisasi kepemudaan, kalangan santri, pegiat LSM, unsur Pemda, Polri dan TNI, di Semarang, Kamis (11/10).

Menurutnya, NU sejak awal didesain sebagai organisasi yang moderat dengan memberi kebebasan untuk bermadzhab dan mengembangkan pemikiran.

"Bibit terorisme itu suka mengafirkan dan menyesatkan orang lain. Sedangkan konsep NU adalah bebas bermadzhab dan anti radikalisme, mengedepankan akhlak. Ajaran para kiai yang meniru dakwah Nabi dan para wali inilah yang perlu kita lestarikan dan kembangkan," tegasnya.

Waketum PBNU dalam paparannya menyampaikan, Indonesia terus diserang dari masa ke masa. Pernah dijajah bangsa asing dan dirusak bangsa sendiri. Sering sekali Indonesia dijadikan target serangan. Namun saat ini musuh kita tidak jelas. Diantaranya terorisme yang perlu diwaspadai terus-menerus.

"Kita hadir di sini adalah untuk menjaga NKRI. Kita sekarang ada dalam zaman globalisasi. Musuh kita tidak kelihatan. Diantaranya teroris. Maka kita harus pintar, kreatif dan jaga persatuan serta tetap waspada," ujarnya.

Dalam kesempatan itu ia mengajak para hadirin untuk membangun komunikasi yang intens dan erat bekerjasama mencegah terorisme sejak dini. Setidaknya dari lingkungan sekitar rumah dan pemukiman. Sumber: NU Online

Menteri Agama Suryadharma Ali mengatakan, pihaknya akan mengonsentrasikan bidang pendidikan pada medio 2011 dengan program pendidikan madrasah gratis secara bertahap sudah dapat direalisasikan.

"Program madrasah gratis sudah harus berjalan, meski dari sisi kemampuan keuangan masih dihitung," katanya ketika membuka Rapat Kerja Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sumatera Utara di Medan, Jum'at (25/2).

Menteri Suryadharma Ali mengakui perhitungan pemberian dana bagi sejumlah madrasah hingga kini masih terus berlangsung. Untuk itu, ia berharap hal itu segera dapat diselesaikan secepatnya. Jika pun kemampuan pemberian dana gratis bagi pendidikan di madrasah baru bisa separuhnya, hal itu harus disyukuri. Jika baru seperempatnya bisa diwujudkan, juga harus disyukuri, kata Suryadharma Ali.

Ia menjelaskan, program pendidikan madrasah gratis jangan sampai menimbulkan masalah di kemudian hari. Program yang baik itu harus menghasilkan yang baik juga. Jangan sampai ada persoalan di lapangan. "Rencana yang baik jangan bermasalah di lapangan," harapnya.

Menag pun mengingatkan bahwa jika ada madrasah yang sudah dapat bantuan dari bupati atau walikota, hendaknya madrasah bersangkutan tak diberikan dana gratis. Dana yang ada bisa dialokasikan ke madrasah lain yang membutuhkan.

Sebab, katanya, ada beberapa pejabat di daerah memberikan bantuan kepada madrasah sebagai bagian dari janjinya ketika pejabat bersangkutan berkampanye dalam pemilihan kepala daerah.

"Biarkan mereka beramal, kasih kesempatan," ujar Menag Suryadharma Ali.

Bandung, NU Online
Pesantren merupakan sistem pendidikan asli Indonesia yang mampu mengintegrasikan nilai lokal, baik fisik maupun tata nilai dengan keislaman sehingga berpadu dalam Islam Nusantara yang toleran dan moderat yang merupakan perwujudan dari Islam ahlusunnah wal jamaah (aswaja).

Kemampuan adaptasi ini membuat pesantren dengan mudah diterima oleh masyarakat. kehadirannya tidak menganggu tradisi yang ada sehingga, pesantren tidak sekedar menjadi budaya pendidikan, tetapi telah mewujud menjadi subkultur tersendiri menjadi sebuah lembaga sosial budaya yang utuh dan menjadi rujukan masyarakat dalam berfikir dan bertindak.

Wakil Ketua Umum PBNU H As’ad Said Ali mengingatkan, umat Islam Indonesia dan kaum santri, pada khususnya, sedang dihadapkan pada dua persoalan besar, yaitu serbuan radikalisme Islam atau fundamentalisme agama di satu sisi dan disisi lain, menghadapi fundamentalisme pasar bebas yang dikenal dengan liberalisme. Mereka sama-sama fundamentalis, membawa ideologi keras yang tidak bisa ditawar atau dikompromikan dengan budaya setempat.

Pertarungan ideologi tersebut memberi andil besar terhadap terjadinya krisis di berbagai bidang kehidupan. Pesantren juga mengadopsi modernitas, meskipun tanpa risiko. Penerimaan budaya modern tanpa reserve dapat menimbulkan kehilangan orientasi, sedangkan penolakan mentah-mentah akan menjadi beku dan kehilangan arah. Prinsip yang dipegang pesantren adalah al muhafadzatu alal qadimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah, yang artinya mempertahankan yang lama yang baik dan mengambil yang baru yang lebih baik. Ini merupakan jalan tengah strategi pengemangan kebudayaan yang sangat tepat.

“Pesantren, sebagaimana diajarkan oleh para ulama, memiliki relevansi tersendiri dalam menghadapi ancaman kedua macam fundamentalisme ini. Prinsip dan strategi para ulama dan kiai pesantren masih relevan dalam menghadapi krisis identitas saat ini,” katanya ketika memberi sambutan pada Seminar Kembali ke Pesantren, Kembali ke Cita-Cita Luhur Bangsa, yang diselenggarakan dalam rangka hari lahir ke-85 NU, yang diselenggarakan di Bandung, Ahad (26/6).

Ia juga berharap agar umat Islam melakukan evaluasi paradigma pengembangan Islam dan sosial yang dilakukan selama ini, agar sesuai dengan paradigma yang dibangun para ulama terdahulu, agar pesantren bisa menjadi pusat pengembangan budaya, bukan sekedar menjadi konsumen budaya dan pemikiran dari luar.

“Dalam situasi dunia yang sedang kacau seperti ini, semestinya kalangan pesantren Indonesia mampu memberikan berbagai solusi, bahkan alternative agar tercipta kehidupan dunia yang lebih harmoni dan lebih sejahtera,” terangnya.

Ia menyesalkan, adanya upaya dekonstruksi atau pembongkaran terhadap nilai-nilai Islam dengan menggunakan perspektif lain dalam melihat Islam, seperti lokakarya Pengembangan Kajian Agama dalam Perspektif Gender atau Pengembangan Kajian Fikih dalam Perspektif Hak Asasi Manusia.

“Ini tidak boleh dilakukan, sebaliknya, yang harus dilakukan adalah melakukan kajian dan tindakan dalam bidang politik, ekonomi dan kebudayaan dalam perspektif Islam agar dalam politik dan ekonomi, berkembang moral sebagaimana dikehendaki oleh ajaran Islam. Termasuk pengembangan gender, harus dilihat dalam perspektif aswaja, sehingga tidak muncul konsep gender yang liberal, tetapi berkarakter ahlusunnah wal jamaah,” terangnya.

Kemenangan ideologi fundamentalis, akan menjadi pesta pora bagi orang asing. Mereka menginginkan penguasaan agenda ekonomi dan politik untuk menguasai asset nasional. Mereka mengajarkan berfikir pragmatis dengan pendekatan untung rugi, bukan pendekatan manfaat dan mudharat bagi masyarakat.

Fundamentelisme pasar saat ini telah menimbulkan reaksi balik dengan munculnya fundamentalisme agama, gerakan terorisme, isu penegakan syariah dan upaya-upaya pan Islamisme.

“Disini NU sebagai stabilisator bangsa, kelompok sosdem menghendaki Indonesia pecah menjadi 12 negara, kelompok liberal menginginkan kita menjadi Negara serikat. NU tetap menghendaki Negara kesatuan yang menjunjung tinggi pluralitas dan toleransi,” tandasnya.