diobrolin.com

Indonesia Ngobrol, Ngobrolin Indonesia

Jakarta, NU Online
Ketua Umum PP Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa tidak yakin sejumlah kasus politik yang sedang mengemuka, seperti pemalsuan surat MK, kasus Nazaruddin dan sejumlah kasus lainnya bisa diungkap dengan tuntas.

“Mereka saling menyandera dan mengunci. Jika satu fihak diungkap kasusnya, yang lain siap pula membuka kasus lawan,” katanya.

Ia mencontohkan beberapa kasus besar yang tidak selesai secara tuntas diantaranya adalah kasus Gayus Tambunan, yang hanya dijerat masalah paspor atau kasus mantan ketua KPK Antasari Azhar yang akhirnya mengambang.

Mengenai kasus kecurangan pemilu, ia mendapat cerita langsung dari para kader Muslimat NU yang mencalonkan diri sebagai anggota parlemen tahun 2009 lalu, suaranya terus menyusut dari satu tahapan ke tahapan lain, yang mengindikasikan terjadinya jual beli suara.

“Ada anekdot, hari gini kok belanja di mall,” katanya di Jakarta, Jum'at (8/7) menggambarkan suasana pemilu 2009 lalu.

Ia setuju bahwa Indonesia saat ini semakin demokratis, tetapi sifatnya masih prosedural, sudah ada KPU, Panwas, tetapi sejumlah pelanggaran belum tercover, belum ada mekanisme bagaimana jika ada saksi yang tidak setuju hasil perhitungan suara, dan lainnya.

Akibat berbagai kecurangan tersebut, masyarakat menjadi semakin apatis mengikuti proses demokrasi ini. Jika ini tidak diatasi bisa menimbulkan pembangkanan dan selanjutnya sampai pemberontakan.

Karena itu, ia berharap ada pengembangan demokrasi ke arah yang lebih substansial sehingga mampu mensejahterakan rakyat.

Bulan Harlah NU Dimulai

- Posted in Viral by

Rangkaian harlah ke-85 NU dimulai dengan softlaunching yang diselenggarakan di halaman gedung PBNU, Sabtu (18/6) bertepatan dengan 16 Rajab, pas saat hari kelahiran NU.

Kiai Said Aqil Siroj menjelaskan, jika dihitung berdasarkan penanggalan hijriyah, harlah kali ini sudah 88 tahun sedangkan Masehinya 85 tahun. NU dilahirkan pada 31 Januari 1926 M atau 16 Rajab 1432 H.

“Berdasarkan keputusan muktamar ke-32 NU di Makassar, penyelenggaraan harlah dilakukan pada bulan hijriyah, tetapi agak sulit dalam sosialisasinya,” katanya.

Ini disebabkan banyak peristiwa penting NU lebih dikenal dengan penanggalan masehinya, seperti Khittah 1926 M, bukan Khittah 1432 H. Karena itu diambil kompromi, penghitungannya tetap mamakai masehi, peringatannya pada bulan Rajab.

Sejumlah tokoh nasional hadir dalam acara tersebut seperti Taufik Kiemas, Jusuf Kalla, Aburizal Bakrie, dan Wiranto hadir. Sebelum acara, para tokoh tersebut sempat berkunjung ke kantor KH Said Aqil Siroj dan ngobrol-ngobrol diiringi guyonan khas NU. Sejumlah duta besar dan perwakilan negara sahabat juga hadir dalam pertemuan ini.

Sayangnya, Rais Aam PBNU KH Sahal Mahfudh tidak dapat hadir karena kondisi kesehatan yang kurang memungkinkan sehingga pidato kebangsaan yang rencananya disampaikan akhirnya dibacakan oleh Kiai Said Aqil.

Pencanangan bulan harlah ini dilakukan dengan pemotongan tumpeng oleh Kiai Said, disaksikan oleh Katib Aam PBNU KH Malik Madani, Wakil ketua Umum H As'ad Said Ali, dan diserahkan kepada Mustasyar PBNU H Jusuf Kalla. Sumber: NUOnline