diobrolin.com

Indonesia Ngobrol, Ngobrolin Indonesia

JAKARTA - PBNU dan SESRIC, atau Statistical, Economic and Social Research and raining Center for Islamic Countries (SESRIC), menandatangai nota kesepahaman.
Penandatangan tersebut dilakukan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan Director General SESRIC Savas Alfay di kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Selasa, (11/12).

Dalam pidatonya, Kiai Said menjelaskan nota kesepahaman tersebut, yaitu antara PBNU-SESRIC akan bekerjasama dalam berbagai bidang di antaranya pengembangan pendidikan yaitu universitas NU dan pesantren. Selama ini, SESRIC adalah lembaga yang membantu perkembangan negara-negara Islam yang berkantor di Ankara, Turki,

Kerjasama tersebut, sambung Kiai Said, sejalan dengan cita-cita untuk membangun 10 perguruan tinggi NU, “Yang sudah tercapai ada tiga Universitas NU di Halmahera, di Cirebon dan Lampung,” ujarnya.

Ditandatangani pula kerjasama dalam bidang kesehatan yaitu rencana pembangunan rumah sakit dan klinik-klinik NU, serta kejasama ekonomi.

Kiai Said menambahkan, pada tahun 2013 PBNU akan mengunjugi kantor SESRIC dan melihat proyek percontohan yang sudah dilakukan lembaga itu. Di sisi lain, Savas Alfay juga berharap bahwa kerjasama ini segera terlaksana dengan baik.

Penandatanganan nota kesepahaman itu disaksikan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar dan Menteri PDT, Helmi Faisal. Hadir pada kesempatan Sekjen PBNU H. Marsudi Syuhud dan beberapa pengurus PBNU yang lain, serta pengurus lembaga dan lajnah PBNU.

Sumber: NU Online

Jakarta - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj, kembali melanjutkan upayanya mengkampanyekan Islam sebagai agama Rahmatan lil 'Alamin.

Dalam acara Global Peace Convention yang diselenggarakan oleh Global Peace Foundation di Atlanta, Amerika Serikat, salah satu pendiri Partai Kebangkitan Bangsa itu, menegaskan Islam bukanlah agama yang mengajarkan terorisme.

Berbicara di sesi Perdamaian dan Resolusi Konflik dan dipanelkan bersama perwakilan non muslim dari Paraguay, Korea Selatan, dan China, Kiai Said mengungkapkan Alquran sebagai kitab suci umat Islam justru telah mencantumkan sejarah agama lain dan negara Romawi. Ini menunjukkan bagaimana Islam mengajarkan untuk saling menghormati antar pemeluk agama dan juga antar manusia di dunia.

"Sebelum saya sampaikan fakta-fakta yang ada dalam Alquran, mereka masih beranggapan Islam adalah terorisme. Bicara Islam berarti bicara terorisme," ungkap Kiai Said dalam keterangan tertulis kepada redaksi www.dpp.pkb.or.id di Jakarta, Selasa (11/12/2012).

Acara Global Peace Convention diselenggarakan di Atlanta, Amerika Serikat, dua pekan silam, 29 Nopember hingga 2 Desember 2012, dengan mengusung tema besar Kepemimpinan Moral dan Inovatif: Membangun Keluarga Kuat, Masyarakat Sehat, dan Budaya Global Peace.

Dalam kesempatan yang sama Kiai Said juga menyuarakan pentingnya antar umat beragama di dunia untuk segera merealisasikan perdamaian. Konflik dengan latar belakang kebencian agama sudah saatnya ditiadakan untuk terciptanya dunia yang damai. "Penistaan agama, baik oleh pemeluk agama bersangkutan atau pemeluk agama lainlain, jangan pernah terulang lagi di masa mendatang," tegasnya.

Kiai Said juga mengungkapkan kunci keberhasilan NU dalam membantu pemerintah Indonesia untuk terciptanya kerukunan antar umat beragama, yaitu sikap tasamuh, tawazun, tawasuth yang merupakan landasan untuk tercapainya cita-cita besar pendiri NU, meliputi ukhuwah Islamiyah, Wathaniyah, dan Insaniyah. Sumber: DPP PKB

NU Buka Jalan Damai Afghanistan

- Posted in Viral by

Jakarta, _NU Online. _Afghanistan merupakan kawasan lalu lintas kepentingan internasional. Mulai bisnis, agama,  ekonomi dan politik. Sementara di lokal sendiri mereka bertikai pula. Ada aliansi Utara dan Selatan. Ada Taliban moderat dan ekstrem. suni, syiah, dan suku-suku.

“Sebagai saudara seiman, dan ikut mengupayakan perdamaian dunia, PBNU berinisiatif untuk membuka jalan damai mereka yang bertikai. Uapaya itu mendapat tanggapan positif,” jelas Wakil Rais Aam PBNU, K H Musthofa Bisri didampingi Wakil Ketua Tanfidziayah H As’ad Said Ali di gedung PBNU pada Selasa, (19/07). 

Kiai yang biasa disapa Gus Mus ini menambahkan, mulai tanggal 18-19 lalu, PBNU-Afghanistan telah melakukan pertemuan di Hotel borobudur, Jakarta.  Hadir 15 delegasi yang dipimpin mantan presiden Afghanistan, BurhanuddinRabbani. Mereka mewakili 8 kelompok etnis, partai politik, aliran agama, kedaerahan dan LSM. Termasuk pula minoritas Syi’ah dan Taliban moderat, anggota parlemen, Mahkamah Agung, High Peace Council dan ulama.

Lebih lanjut, kiai asal Rembang ini menjelaskan, Pertemuan PBNU-Afghanistan menghasilkan beberapa kesepakatan; yaitu, terbentuknya komisi bersama NU dengan ulama dan para pemimpin masyarakat Afghanistan untuk menginisiasi perdamaian. Memobilisasi dukungan terhadap perdamaain dan pembangunan Afghanistan dari elemen-elemen masyarakat dan ulama ulama Indonesia.

Juga disepakatinya Join Statement tentang prinsip-prinsip dan langkah-langkah perdamaian Afghnistan.

“Afghanistan sekarang adalah pabrik radikalisme yang multidimensi. Jadi, mereka mengalami konflik panjang tak ada akhir,” tutur Agus Maftuh Abugabriel, seorang fasilitator pertemuan PBNU-Afghnistan, Selasa, 19/07 di gedung PBNU.

Agus menambahkan, mereka bisa sampai di bandara saja sudah sukses. Beberapa waktu lalu, mereka pernah sumpah di Masjidil Haram untuk damai. Ketika pulang, langsung mereka berperang. Dalam hal ini, PBNU cukup berhasil.