diobrolin.com

Indonesia Ngobrol, Ngobrolin Indonesia

JAKARTA - Tradisi menulis di kalangan pesantren sudah berkembang sejak pesantren itu berdiri. Banyak karya yang muncul dari pesantren di Nusantara. Sayang, pesantren masih kurang awas dalam hal dokumentasi.

Sejarawan Agus Sunyoto menyesalkan kalangan pesantren yang kurang memelihara dan mendokumentasikan karya-karya para kiai.

Misalnya, ada karya terjemahan Tafsir Jalalain dalam bahasa Jawa yang malah diterbitkan di luar negeri.

“Kenapa tidak di Semarang atau Surabaya? Ini tandanya, pesantren kurang perhatian dalam mendokumenetasikan,” ujar Agus Sunyoto di kantor redaksi NU Online Jakarta, Rabu, (20/12).

Menurut Wakil Ketua PP Lesbumi NU itu, akibat dari abainya dokumentasi, pesantren bisa tersingkir dalam percaturan sejarah. Sumber: NU Online

JAKARTA - Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Ishomuddin menyatakan, sejak dulu NU menghargai budaya setempat. Selama tak melanggar syari’at, segenap praktik yang sudah mengakar di masyarakat tak boleh diganggu.

“Kenapa NU sangat apresiatif terhadap soal-soal kebudayaan? Karena memang ada kaidah fiqihnya di dalam agama,” tuturnya saat ditemui NU Online di Jakarta, Rabu (20/12) malam.

Kiai Ishom mengungkapkan, kaidah tersebut berbunyi “La yanbaghi al-khuruj min adatin nas illa fil haram” yang berarti tak selayaknya keluar dari kebudayaan masyarakat selama itu bukan perkara haram.

Menurut dia, prinsip NU ini cukup efektif dalam melancarkan dakwah Islam. Secara lembut, seorang ulama dapat mengajak sasaran dakwahnya tanpa mendapatkan banyak perlawanan.

Kiai Ishom bercerita tentang pengalamannya menengahi konflik antara tokoh-tokoh adat dan tuan guru yang terjadi di Nusa Tenggara Barat. Para tuan guru menolak keras adat dalam sebuah pesta perkawinan yang mengandung pelanggaran syari’at, seperti minum minuman keras.

Alih-alih diikuti, penolakan adat oleh tuan guru justru mempertajam ketegangan di masyarakat. Padahal, dulu adat yang berlangsung cukup Islami, namun karena perkembangan budaya setempat, kegiatan pesta itu kemudian berubah.

Kiai Ishom lantas membuat kesepakatan untuk tetap mempertahankan kebiasaan budaya yang dilakukan oleh peduduk lokal dengan menghilangkan kegiatan minum minuman keras.

“Saya menyelesaikan itu melalui strategi al-jam‘u wat taufiq atau kompromi. Tidak merugikan tokoh adat dan tidak bertentangan dengan agama,” ujar Kiai Ishom.

Pengasuh rubrik konsultasi syari'ah dalam sebuah media cetak ini juga mengingatkan, budaya senantiasa berkembang, sehingga menuntut masyarakat untuk senantiasa beradaptasi perubahannya. Sumber: NU Online

Perkuat Silaturahim & Tradisikan Tabayyun

- Posted in Viral by

BLITAR - Warga NU diminta mengaktifkan kembali majelis-majelis ta’lim yang ada disemua tingkatan baik yang sudah rutin diselenggarakan seperti tahlilan, diba’am, khataman Al-Qur'an, manakiban, lailatul ijtima’, pengajian rutin selapanan,dan lainnya.

Selain itu juga ada kegiatan yang bersifat eksidental seperti PHBI, pidaan, haul dan halaqoh. Butir di atas merupakan rekomendasi peserta Konfercab NU kepada para warga NU di Blitar.

“Kegaiatan diatas selama ini sudah berjalan bagus dan harus ditingkatkan,’’ ujar Kiai Nasrudin Mubin, salah satu devisi tausiayah PCNU Blitar, kemarin.

Menurut mantan Wakil katib Syuriyah ini, kegiatan yang sudah berjalan ini perlu ditindak lanjuti dan ditingkatkan mutunya. Misalnya pertemuan lapanan Ahad Wage di Masjid Agung Blitar. Kegaiatan ini perlu diapresiasi oleh warga NU di Kabupaten Blitar. Karena kegiatan ini sebagai ajang silaturrahmi antara anggota dan pengurus NU. 

“Pada kesempatan itu untuk menjaring aspirasi persoalan dari warga dan akan dipecahkan pada lapanan selanjutnya. Seluruh masail  kekinian yang masuk akan dipecahkan dalam bahsul masail dan bila sudah jelas akan disampaikan pada Ahad Wage berikutnya," kata mantan Rais Syuriyah MWC Sanankulon itu.

Selain itu, Konfercab pada kesempatan itu juga mendorong semua warga nahdliyin untuk berperan aktif dalam pembangunan disemua tingkatan seperti bersedia menjadi pengurus RT, RW, Perangkat Dusun dan Desa, BPD, LPPD, komite sekolah, organisasi kecamatan maupun organisasi kabupaten seperti, MUI, FKUB, PKDM, BNN, Dewan Pendidikan dan lainnya.

“Periode lalu. Semua organisasi diatas dijabat oleh warga NU. Untuk itu kedepan partisipasi warga NU minimal dipertahankan. Kalau bisa ditingkatkan lagi," ungkap Nasrudin.

Yang lebih penting lagi, lanjut Nasruddin, warga NU harus senantiasa berkoordinasi, menjaga budaya silaturahim, bertabayaun, salaing berkomunikasi dengan tokoh-tokoh dan pengurus NU yang terdekatuntuk menghindari saling curiga, permusuhan, fitnah dan kesalahan paham akibat informasi yang didapat tidak untuh.

“Budaya tabayun dan konfirmasi harus dilakukan. Agar kita semua terhindar dari fitnah dan adu domba. Di era seperti ini tali erat silaturahim benar-benar dibutuhkan," tandasnya. Sumber: NU Online