diobrolin.com

Indonesia Ngobrol, Ngobrolin Indonesia

JAKARTA

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh

بسم لله، الحمد لله، والصّلاة والسّلام على سيّدنا ومولانا محمّد رسول لله ، وعلى أله وصحابته ومن تبع سنّته وجماعته ، من يومنا هذا إلى يوم البعث والنهضة .

Warga Indonesia di seluruh dunia, yang saya cintai. Alhamdulillah kita telah bersama-sama menjadi saksi sejarah Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014. Pilpres kali ini, menjadi momentum yang sangat penting, untuk menentukan masa depan bangsa dan negara kita. Juga, menentukan strategi pembangunan manusia Indonesia ke depan.

Hari ini, tadi kita sudah saksikan bersama tentang kedewasaan politik dan kualitas demokrasi bangsa Indonesia. Tanggal 11 Ramadhan dan 9 Juli 2014 menjadi sejarah penting, bahwa warga Indonesia mampu berpolitik secara sehat, santun, cerdas dan elegan. Politik tidak hanya milik kelompok elite, namun juga milik seluruh warga. Akan tetapi, perlu mencermati sikap-sikap berpolitik dengan memegang kaidah, norma dan fatsoen politik agar tidak menjadi arogan, merasa menang sendiri dan saling melempar kesalahan. 9 Juli 2014, kedewasaan politik bangsa Indonesia betul-betul sedang diuji.

Sudah saatnya warga Indonesia bersatu kembali. Tidak elok jika ada perbedaan sikap politik yang menjurus pada pertikaian horizontal. Yang harus diutamakan adalah kepentingan warga Indonesia agar bersatu, damai dan berpikiran jernih kembali. Tuntasnya kampanye politik dan pemilihan langsung, perlu disusul dengan menumbuhkan sikap santun, tenang dan menguatkan persaudaraan antar sesama, persaudaraan dalam kebangsaan, ukhuwah wathaniyyah. Sekali lagi, ini yang perlu digarisbawahi, persaudaraan antar sesama, persaudaraan dalam dimensi kebangsaan, ukhuwah wathaniyyah.

Kepada para pemimpin bangsa Indonesia, sesungguhnya Presiden merupakan simbol dari amanah rakyat dan takdir Allah. Dalam al-Qur’an, sudah sangat jelas, bahwa Allah memberi amanah tiap manusia, sebagai khalifahnya (khalifah fil-ardh): wa idz qaala rabbuka lil malaaikati inni jaa’ilun fil ardhi khaliifah, [Q.S, al-Baqarah:30]. Agar, manusia mampu mengelola sebaik-baiknya kebutuhan dan kepentingannya, dengan tujuan kebaikan bersama (mashlahah ‘ammah). Untuk itu, kepemimpinan menjadi modal penting dalam melaksanakan amanah Allah, untuk mengelola kekayaan di bumi untuk tujuan beribadah, membantu sesama dan bermanfaat bagi kemanusiaan.

Dari hasil Pemilu 9 Juli tadi, tentu ada beberapa catatan yang perlu saya sampaikan:

1. Kepada masing-masing kandidat Capres-Cawapres untuk berpikir tenang dan jernih. Mohon kepada keduanya untuk tidak tergesa-gesa mengumumkan kemenangan. Kedua kandidat memiliki tim riset-survey dengan hasil quick count hasilnya berbeda-beda. Kita menghormati sumbangsih survey dalam kehidupan demokrasi, namun demikian yang dianut sesuai undang-undang adalah perhitungan di KPU. Sebelum tergesa mengumumkan kemenangan, mari bersama-sama mengawal perhitungan resmi. Meminta kepada seluruh warga Indonesia, untuk mengawal penghitungan suara, baik di tingkat TPS, Desa, Kecamatan, Kabupaten, hingga ke level nasional. Tentu dengan proporsi, mekanisme dan bentuk pengawalan yang sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan.

2. KPU diminta bersikap jujur. Agar menjalankan proses penghitungan suara dengan berdasar amanah, tugas dan kejujuran. Jujur untuk mengumumkan siapa yang menang, siapa yang kalah dengan data dan validasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

3. Meminta kepada seluruh warga Indonesia untuk berpikir tenang, dengan niatan menjaga integrasi bangsa, dengan strategi mewujudkan politik kebangsaan dan kerakyatan. Sudah saatnya kita rukun kembali, menjaga toleransi dan perdamaian. Prinsipnya sesama warga Indonesia perlu merekatkan kembali rasa bersaudara, setanah air, dan sebangsa.

4. Memohon kepada seluruh media, baik televisi, website, radio dan media cetak untuk ikut aktif menjaga suasana, agar tidak larut dalam potensi konflik pasca Pilpres 9 Juli.

5. Merefleksikan Pilpres di tengah Ramadhan. Proses politik 9 Juli 2014, bukan untuk mencipta jurang permusuhan, fitnah dan memutus silaturahmi. Saya yakin, kedua pasangan capres-cawapres menginginkan yang terbaik bagi bangsa Indonesia. Pilpres harus dianggap sebagai berkah Ramadhan, agar Allah Subhanahu wata’ala memilih pemimpin yang amanah, jujur, tegas dan mampu menyejahterakan warga Indonesia. Semoga negeri ini, menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

Demikianlah, rakyat Indonesia sudah menentukan pilihan dan memberikan mandat kepada sang pemimpinnya. Mari kita berdoa agar mendapat pemimpin yang mampu membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik serta meningkatkan kesejahteraan warganya. Mari kita dengan santun menunggu dan mengawal hasil pengumuman KPU, pada 22 Juli 2014. Selebihnya, ini yang utama, mari kukuhkan fitrah kemanusiaan kita semua sebagai insan sebangsa yang bersaudara. Lebih penting dari politik adalah kemanusiaan.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh

DR KH Said Aqil Siroj, MA
Ketua Umum PBNU

Sumber: NU Online

JAKARTA - Direktur Eksekutif Pengurus Pusat Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqoh (LAZISNU) H Amir Ma’ruf menyerukan umat Islam Indonesia untuk membantu korban tragedi kemanusiaan di Palestina. Bantuan bisa dilakukan dengan mengumpulkan dana yang akan disalurkan ke negara tersebut.

Menurut Amir, seruan itu juga sudah disampaikan kepada cabang-cabang LAZISNU di tiap tingkatan untuk segera menggalang dana. Ia berharap, tidak hanya LAZISNU yang melakukan hal itu, tapi banom, lajnah, dan lembaga NU.

Amir mengatakan, Palestina saat ini ada banyak luka dan korban nyawa, serta kerusakan infrastruktur. “Maka yang paling pokok, LAZISNU menyerukan mMuslim Indonesia untuk membantu. Mereka perlu dukungan internasional, terutama dunia Islam,” tegasnya.

Menurut LAZISNU, warga Muslim dunia harus terlibat sesuai kapasitas masing-masing. Bagi yang punya kekuatan fisik, harus membantu dan menjadi relawan ke sana. Bagi yang punya rezeki mari membantu bareng-bareng berrsama LAZISNU. “Kita akan kumpulkan dulu dana, nanti akan dikomunikasikan dan kirimkan ke sana.”

Serta bagi yang punya kekuatan diplomasi, harus segera dilakukan. LAZISNU meminta pemerintah Indonesia untuk berperan aktif melalui diplomasi internasional supaya tragedi ini segera diselesaikan serta mendesak PBB sama berpean aktif menghadang kejadian itu. “Kali ini banyak korban anak-anak. Ini masa depan bangsa Muslim dipertaruhkan,” tegasnya.

Sumber: NU Online

JEMBER - Semangat KH Muchit Muzadi dalam menggunakan hak pilihnya patut dicontoh. Dalam pemungutan suara Pilpres Rabu (9/7) pagi, Kiai Muchit yang lazim disapa Mbah Muchit datang jauh-jauh dari Malang hanya untuk mencoblos surat suara di Jember.

Menurut menantunya, Syakroni, selama ini Mbah Muchit memang lebih banyak tinggal di Malang. Ia lebih kerasan tinggal di Malang dibanding di Jember.

“Selain itu, juga untuk memudahkan beliau kalau mau kontrol penyakitnya ke Surabaya. Kan kontrolnya relatif sering,” terang Syakroni kepada NU Online di rumahnya kemarin, Rabu (9/7).

Sejak Senin (7/7) lalu, Mbah Muchit sudah tinggal di Jember untuk memberikan suaranya dalam Pilpres. Dengan mengendarai becak, Mbah Muchit berangkat menuju TPS yang terletak sekitar 150 meter ke arah selatan dari rumahnya. Setelah mencoblos, Mbah Muchit langsung bertolak ke Surabaya untuk melakukan kontrol penyakitnya di sebuah rumah sakit Islam.

“Setelah mencoblos, langsung berangkat ke Surabaya, nanti pulangnya ke Malang,” ujar Syakroni.

Sesekali Mbah Muchit berkunjung ke Jember untuk kepentingan nyekar ke makam istrinya. Karena faktor usia, kondisi kesehatan Mbah Muchit memag sudah cukup rapuh. Ke mana-mana ia menggunakan kursi roda. Namun ia cukup konsisten untuk menunaikan hak-hak politiknya.

“Penyakitnya memang banyak, tapi terutama jantung. Beliau juga lebih sering menggunakan obat terapi,” pungkas Syakroni.

Sumber: NU Online