diobrolin.com

Indonesia Ngobrol, Ngobrolin Indonesia

Oleh KH Abdurrahman Wahid, 2008

Ketika pada tahun 1933, KH. M. Hasjim Asy’ari Tebuireng (Jombang) memerintahkan putra beliau KH. Wahid Hasjim yang baru pulang dari Tanah Suci Mekkah untuk mempersiapkan Muktamar NU ke-9 di Banjarmasin (Borneo Selatan), pertanyaan tentang kebangsaan lalu muncul. Dijawab oleh beliau, bahwa kita memerlukan pembahasan terus-menerus antara ajaran agama Islam dan paham kebangsaan/nasionalisme tersebut. Lalu menjadi jelaslah, bahwa di negeri ini ajaran agama Islam tidak bisa lepas dari faktor kebangsaan tersebut.

Kalau hal ini dilupakan, maka ‘perjuangan Islam’ di negeri ini hanya akan diikuti oleh jumlah kecil dari para anak bangsa. Mayoritas anak bangsa itu tidak biasa berjuang terlepas dari faham kebangsaan/ nasionalisme, karena hal itu memang sudah lama dilakukan di negeri ini. Wangsa Syailendra dari kaum Buddhis di Pulau Sumatera sudah merasakan masalah tersebut sejak abad ke-6 Masehi. Penjelajah Buddhis dari daratan Tiongkok, bernama Fa-Hien pada abad ke-6 Masehi mendapati bahwa dinasti Sriwijaya di sebelah Selatan Sumatera menyimpan semangat kebangsaan dalam kehidupan mereka.

Ketika orang-orang Sriwijaya menyerbu pulau Jawa melalui Pekalongan sekarang ini, kemudian melewati Kerajaan Hindu Kalingga di Wonosobo sekarang ini, mendirikan Candi Borobudur di daerah Muntilan (Magelang sekarang), dua abad kemudian, mereka harus menerima kenyataan akan pembangunan Candi Prambanan (Lara Jonggrang) yang bercorak Hindu Buddha. Ketika kemudian dari kalangan Hindu dan Buddha secara terpisah menunjukkan reaksi atas ‘agama campuran’ tersebut, maka rakyat Prambanan pada abad ke-10 Masehi berpindah secara besar-besaran ke wilayah Kediri.

Agama Hindu-Budha itu, disebut juga agama Bhairawa, kemudian meneruskan perjalanan dan menjadi agama resmi Kerajaan Daha di kawasan Kediri. Kemudian, mereka berpindah ke Singasari, sebelum pada akhirnya menjadi agama yang hidup di Kerajaan Majapahit. Ditempat baru itu, ‘agama campuran’ itu harus menerima kehadiran gerakan Islam di Desa Terik (terjemahan kata Tarikat di tepian sungai Brantas) yang berada dibawah perlindungan angkatan laut Tiongkok yang beragama Islam, waktu itu.

Jadi pluralitas dalam bentuk dialog terbuka itu, sudah lama dijalani bangsa Indonesia. Kita belum lagi berbicara tentang kerajaan Buddha di Pakuan (sering juga dinamai Tarumanegara) dekat Bogor. Sekarang juga orang-orang ‘beragama asli’ seperti Sunda Wiwitan di kalangan orang-orang Badui dan sebagainya di Jawa Barat.

Ketika kemudian Mahapatih Gajah Mada dari Majapahit ‘mengatur’ terbunuhnya Putri Dyah Pitaloka di Bubat (sebelah utara Jawa Timur dekat Gresik sekarang), motifnya tidak lain adalah ketakutan akan munculnya aliansi politik militer antara kerajaan Hindu di Majapahit di bawah Raja Hayam Wuruk (Brawijaya IV) yang beragama Hindu Budha dan Prabu Siliwangi dari Pajajaran, yang beragama Hindu. Kalau itu terjadi, Gajah Mada takut aliansi politik militer itu akan mengucilkan masyarakat santri di Majapahit.

Ketika Hayam Wuruk marah, Mahapatih Gajah Mada melarikan diri melalui kawasan Banten Selatan dan naik perahu dari Balaraja ke Krui di Lampung Barat sekarang. Ketika kemudian ia menyadari, bahwa rencana perkawinan tersebut tidak mengandung kemungkinan munculnya aliansi Majapahit-Pajajaran, maka ia pun mengirimkan pesan kepada Hayam Wuruk bahwa motifnya melakukan hal itu, adalah karena takut timbulnya aliansi tersebut. Hayam Wuruk mengirimkan pesan, bahwa ia menginginkan Gajah Mada datang sendiri menghadap ke Kraton di Majapahit, guna menyampaikan hal itu. Sesampai di Majapahit (di kawasan dekat Jombang sekarang) selama berbulan-bulan, Sebelum ia dapat menghadap Hayam Wuruk, ia pun meninggal dunia karena sakit.

Dari gambaran di atas, bahwa baik Gajah Mada maupun Hayam Wuruk ingin menghindari aliansi-aliansi politik dan militer antara Majapahit dan lain-lainnya. Ini karena sudah sejak seabad sebelum itu, hutang perang (war loan) Majapahit sudah membengkak, menjadi tanggungan Majapahit yang sangat berat. Di samping itu, apabila aliansi politik militer itu berlangsung maka kandaslah apa yang dicita-citakan Mpu Tantular sejak dua abad sebelumnya, yaitu terkenal dengan adagium Bhinneka Tunggal Ika (berbeda-beda, namun tetap satu jua). Adagium inilah yang kemudian oleh Bung Karno diberi nama Pancasila pada tahun 1945.

Dalam kerangka dialogis agama Islam dan kebangsaan itu lah tokoh-tokoh eksponennya, seperti H.O.S Tjokroaminoto, KH. M. Hasjim Asy’ari, Bung Karno dan Djojosugito bergerak dan berkiprah. Perjuangan ini berujung pada Muktamar NU ke-9 di Banjarmasin pada tahun 1935, yang memutuskan NU tidak akan mendirikan negara Islam. Kalau hal ini kita lupakan sekarang dan kita mengikuti ‘garis perjuangan’ Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), PKS (Partai Keadilan Sejahtera) atau Front Pembela Islam (FPI) yang ingin mendirikan negara Islam, maka kita akan menyalahi keputusan Muktamar tersebut.

Maukah mayoritas bangsa ini menjaga dialog Islam dan kebangsaan itu? Sebelum kita dapat melakukan hal itu, sebaiknya kita tetap pada keputusan Muktamar di atas saja, bukan?

Sumber: NU Online/Sindo

Oleh KH Yahya Cholil Staquf

Mengapa KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mencintai Indonesia? Karena beliau manusia pesantren. Sedangkan keindonesiaan adalah salah satu unsur utama jati diri inti pesantren.

George McTurnan Kahin (1918-2000, Cornell University, USA), menuliskan hasil penelitian sejarahnya dalam “Nationalism and Revolution in Indonesia” (Cornell University Southeast Asia Program, 1952), bahkan menandaskan kesimpulan bahwa “nasionalisme Indonesia berakar pada tradisi Islam Nusantara”: pesantren!

Sejak Terusan Suez dibuka (1859) membedah daratan beting antara Laut Tengah dan Laut Merah, perhubungan Eropa – Asia dengan transportasi laut tidak lagi harus memutari Tanjung Afrika, tapi potong kompas lewat Terusan Suez, melintasi Teluk Aden, terus ke arah Timur hingga Nusantara. Sejak saat itu, jalur pelayaran Eropa – Nusantara pergi-pulang kian ramai, dan pelabuhan Jeddah menjadi salah satu persinggahan penting. Maka sejak paruh akhir abad ke-19 terjadi lonjakan luar biasa perjalanan haji dari antero Nusantara: Andalas, Jawa, Borneo, Celebes, Maluku, Sumbawa dan pulau-pulau lainnya. Kebersamaan selama berbulan-bulan pelayaran dan bertahun-tahun mukim di Hijaz diantara para “jamaah haji” yang merupakan kader-kader unggulan kalangan pesantren itu menumbuhkan rasa senasib dan persaudaraan yang terus menguat menggiligkan “tekad sebangsa”, dan dengan penuh gairah mereka tanamkan kepada masyarakat lahan khidmah mereka sepulang dari Tanah Suci.

Pada 1912, Haji Oemar Said, seorang keturunan dari Kiai Kasan Besari (Pesantren Tegalsari, Ponorogo), mendirikan Syarikat Islam, organisasi politik pertama di Hindia Belanda yang menetapkan “Perjuangan Menuju Kemerdekaan Indonesia” sebagai haluannya. Pada waktu itu, Kiai Wahab Hasbullah yang masih mukim di Makkah pun mendirikan SI Cabang Makkah. Pada saatnya nanti, di Tanah Air, Kiai Wahab menginisiasi berdirinya Nahdlatul Wathan, kemudian –dibawah perlindungan gurunya, Kiai Hasyim Asy’ary– Nahdlatul Ulama (1926). “Soempah Pemoeda”yang dilahirkan oleh Kongres Pemoeda 1928, adalah kulminasi awal dari keseluruhan proses tersebut.

Kiai Maimoen Zubair meriwayatkan bahwa ketika beliau mondok di Tambak Beras dan belajar di sekolah “Syubbaanul Wathan” disana, setiap hari sebelum masuk kelas murid-murid diwajibkan menyanyikan sebuah lagu yang diciptakan oleh Kiai Wahab Hasbullah pada tahun 1934. Nusron Wahid dan Yaqut C. Qoumas sowan kepada Kiai Maimoen di Sarang, Rembang, untuk memohon ijazah lagu itu, dan didapatlah syair yang tak pernah beliau lupakan:

يَا لَلْوَطَن يَا لَلْوَطَن يَا لَلْوَطَن
حُبُّ الْوَطَن مِنَ الْإِيْمَان
وَلَا تَكُنْ مِنَ الْحِرْمَان
اِنْهَضُوْا أَهْلَ الْوَطَن
إِنْدُونَيْسيَا بِيْلَادِيْ
أَنْتَ عُنْوَانُ الْفَخَامَا
كُلُّ مَنْ يَأْتِيْكَ يَوْمَا
طَامِحًا يَلْقَ حِمَامَا

_
“Pusaka hati wahai tanah airku
Cintamu dalam imanku
Jangan halangkan nasibmu
Bangkitlah, hai bangsaku!
Indonesia negriku
Engkau Panji Martabatku
S’yapa datang mengancammu
‘Kan binasa dibawah dulimu!”
_

Kiai Fuad Affandi, pengasuh Pondok Pesantren Al Ittifaq, Ciwedey, Bandung, seorang satri dan khadam Kiai Ma’shoem Lasem, meriwayatkan dhawuh gurunya (Mbah Ma’shoem), “Pada lambang NU itu ada tali yang tersimpul. Itulah tali pengikat Indonesia. Kalau tali itu lepas, Indonesia akan meleleh seperti gelali!”

Bagi pesantren dan NU, Indonesia adalah martabat. Harga diri. Memproklamirkan kemerdekaan Republik Indonesia adalah merebut harga diri. Mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah mempertahankan harga diri. Memperjuangkan Cita-cita Proklamasi adalah memperjuangkan martabat kemanusiaan.

Kiai Bisri Mustofa hanya mengenyam sekolah “Ongko Loro” (“Angka Dua”, Inlandsche School, jenjang sekolah dasar dua tahun dengan bahasa pengantar Jawa untuk pribumi jelata di jaman Belanda). Ada seorang kerabat yang priyayi hendak mendaftarkannya ke HIS (Hollandsch-Inlandsche School, sekolah dengan bahasa pengantar Belanda untuk anak-anak priyayi), tapi keburu ketahuan Kiai Kholil Harun, yang lantas mencegah,

“Jangan sampai kamu jadi londo!” kata beliau, “ayo ikut aku saja!”

Sejak saat itu (usia sekitar 15 tahun) Mashadi (nama kecil Kiai Bisri) belajar di pesantren Kiai Kholil, mengunyah ilmu-ilmu agama langsung dengan “bahasa aslinya”, Bahasa Arab, bahkan secara khusus menekuni seluk-beluk Bahasa Arab sebagai modal prinsip untuk memahami agama secara otentik. Belakangan, sesudah diambil menantu, Kiai Kholil Harun mengirimnya ke Makkah untuk bertabarruk kepada Tanah Suci dan berguru kepada para masyayikh disana selama dua tahun. Walaupun semua itu, Kiai Bisri tidak lantas menjadi kearab-araban, apalagi Arab-minded. Indonesia tertanam hingga merasuk ke sumsum tulangnya.

Aku masih kanak-kanak ketika malam itu nonton tivi berdua dengan beliau. Di layar tivi ada orang Arab ngomong entah apa. Yang tertangkap olehku hanya ucapan: “…Induuniisiyyaa… Induuniisiyyaa…”

“Brakk!!” aku kaget oleh suara meja digebrak tiba-tiba.

“Orang Arab ini sombongnya mintak ampun!” Mbah Kung bersungut-sungut, “kenapa harus ‘in-duu-nii-siy-yaa’? Masak ngomong ‘In-do-ne-sia’ saja nggak bisa? Dasar sombong!”

Catatan:

“Gelali” adalah gula jawa yang dipanasi hingga meleleh.

Syair di atas sebenarnya oleh Kiai Maimoen diriwayatkan beserta lagunya. Tapi karena penerima riwayat tidak memiliki cita-rasa nada sama sekali, riwayat lagunya jadi kacau-balau. Setelah ijtihad melodi yang susah-payah, dibantu para peserta Pelatihan Kepemimpinan Nasional GP Ansor Angkatan Ketiga di Pondok Pesantren Al Ittifaq, Ciwedey, Bandung (10 – 14 Januari 2013), saya sampai pada rangkaian nada yang semoga tidak terlalu jauh melenceng dari aslinya.

Sumber: NU Online/TerongGosong.com

Muslim Amerika Kekurangan Imam

- Posted in Viral by

Meskipun jumlah pemeluk Muslim di AS naik berlipat-lipat, jumlah ulamanya atau imam, mengalami ketertinggalan.

Banyak imigran Muslim telah mengarahkan anak-anak mereka jauh dari peran kepemimpinan agama dan menuju karir di bidang kedokteran, teknik, hukum dan bisnis, kata Jihad Turk, seorang imam dan presiden Bayan Claremont, lulusan sekolah Islam di Claremont School of Theology di selatan California seperti dikutip dari The Wall Street Journal (14/8). Banyak masjid Amerika dijalankan dengan anggaran terbatas dari para relawan dan tidak bisa menjamin gaji tetap untuk para imam.

Menurut sebuah penelitian pada 2011 yang disponsori oleh sebuah koalisi multi-agama, hanya 44% imam AS bekerja penuh waktu dan dibayar, sementara sebagian besar lainnya dikelola secara sukarela.
Menemukan seorang imam yang dapat berkomunikasi dengan jamaah berusia muda kelahiran Amerika sangat sulit, kata seorang pemimpin Muslim Amerika.

Muslim muda Amerika mengharapkan lebih seorang imam mampu menjalankan peran lebih dari sekedar pembacaan kitab suci secara tradisional, kata Edgar Hopida, juru bicara Masyarakat Islam Amerika Utara, sebuah jaringan pemimpin kelompok Muslim. Seperti hubungan antara anggota dan pendeta di Amerika, imam diharapkan menjadi "konselor pernikahan, pembimbing generasi muda, ulama dan sekaligus pengumpul dana," kata Mr Hopida. "Seperti pastor setempat, mereka ditempatkan sebagai tokoh masyarakat."

Kebanyakan imam, lahir dan dididik di Timur Tengah, memiliki waktu yang sulit melayani orang Amerika, kata Mr Turk, 43 tahun yang asli Phoenix yang memiliki program bertujuan untuk melatih para imam Amerika dengan kursus manajemen nirlaba, psikologi, keterlibatan sipil, hubungan gender dan media.

"Generasi tua imigran harus memahami, tidak penting dari mana Anda berasal, anak-anak Anda adalah orang Amerika. Dan ada kekhawatiran yang sangat nyata bahwa generasi muda tidak akan menemukan masjid yang menjadi tempat untuk beresonansi jika imam tidak siap untuk membantu mereka dengan dunia mereka," kata Turk.

Beberapa jemaah mulai memahami hal ini, kata Mr Turk. Satu imam di Boston baru-baru ini memberikan khotbah dengan menggabungkan ide-ide dari acara televisi populer. Jemaah di luar Los Angeles merekrut seorang kelahiran Amerika yang telah masuk Islam. Jemaat lain menawarkan kegiatan bagi para mahasiswi, mendorong keterlibatan sipil dan secara terbuka mendiskusikan tantangan membangun sebuah identitas Muslim Amerika.

Sumber: NU Online