diobrolin.com

Indonesia Ngobrol, Ngobrolin Indonesia

Selama lima tahun terakhir, PBNU mendirikan 23 perguruan tinggi (PT) Nahdlatul Ulama yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Upaya tersebut akan terus diperluas dalam beberapa tahun ke depan seiring dengan semakin banyaknya lulusan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) setelah pemberlakukan wajib belajar 12 tahun.

Wakil Sekjen PBNU H Hanif Saha Ghofur menjelaskan NU memiliki aset sangat besar yang bisa dikapitalisasikan untuk pendirian universitas. Dalam hal ini, pendirian perguruan tinggi baru akan diarahkan di ibukota propinsi dan kota besar di seluruh Indonesia.

“Ada beberapa tempat yang akan kita dirikan seperti di Sulawesi barat, Kalimantan utara, Bengkulu, Riau, dan kemungkinan Maluku karena di situ sudah ada. Maluku sudah ada proposal, yang kita perlu perbaiki kembali. Bengkulu sudah siap tahun ini, Kalimantan utara mungkin tahun depan. Kalimantan utara mungkin tahun depan,” katanya kepada NU Online baru-baru ini.

Ia menjelaskan, Indonesia akan mengalami booming lulusan SLTA pada 2017 setelah peningkatan lulusan kewajiban pendidikan menengah universal atau wajib belajar 12 tahun mulai lulus pada 2017. Dengan demikian, Indonesia membutuhkan banyak perguruan tinggi untuk menyerap.

“Itu kan tidak hanya bisa dipenuhi oleh perguruan tinggi yang didirikan oleh negara atau PTN, tentu dibutuhkan PTS. Ini mengantisipasi ledakan yang akan dimulai pada 2017. Makanya, perguruan tinggi NU sudah melakukan identifikasi beberapa pasar, berapa lulusan SMA yang akan melanjutkan ke perguruan tinggi, berapa responnya. Ini yang sekarang kita lakukan,” katanya.

“Kita akan melihat, tidak semua daerah akan mendirikan perguruan tinggi. Bahkan kami akan menolak jika tidak memiliki potensi. Kalau kekayaanya terserak, akan dikonsolidasikan antara dua atau tiga cabang NU,” imbuhnya.

Menurutnya, terdapat empat beberapa tantangan pendirian perguruan tinggi NU, pertama soal kepemilikan aset. Kedua, kesiapan infrastruktur pembelajaran, mulai dari lab, bengkel, perpustakaan. Ketiga, kesiapan SDMdan biaya operasional.

“PBNU memberi jaminan 3 milyar per program studi, kalau ada 10 prodi kan 3.5 milyar rupiah dan PBNU siap lah untuk itu. Tetapi masing-masing daerah harus punya dana operasional,” tandasnya.

Untuk itu, PBNU sudah melakukan sejumlah pelatihan bagi perguruan tinggi baru seperti pelatihan manajemen pemasaran, manajemen pencitraan, manajemen aset, dan lainnya agar pengelolaan perguruan tinggi tersebut bisa berjalan dengan baik.

Sejauh ini, perguruan tinggi NU bisa digolongkan dalam dua kelompok, pertama, dimiliki langsung oleh PBNU yang dikelola dibawah Badan Pengelola Perguruan Tinggi NU (PT PTNU). Sementara itu, secara keseluruhan, perguruan tinggi berbasis NU tergabung di Lembaga Perguruan Tinggi NU (LPTNU) yang jumlah totalnya mencapai 2014.

“Tentu kita kepingin bersinergi positif sehingga ada sinergi yang luar biasa, merajut antara perguruan tinggi dan pesantren,” tandasnya.

Ia juga mendorong beberapa perguruan tinggi NU yang selama ini masih independen untuk masuk dalam pengelolaan BP PTNU. Beberapa yang sudah positif masuk diantaranya adalah Universitas Islam Jember dan Universitas NU Surakarta. Beberapa lainnya masih dalam proses.

Ke depan, bukan hanya penambahan kuantitas, tetapi juga akan dikembangkan kualitasnya, “kita harus mengembangkan potensi untuk mengangkat keunggulan. Ini yang perlu kita kembangkan. Artinya ngak bisa perguruan tinggi kita tidak bermutu. Nanti kita petakan, mana yang potensial, diangkat sebagai unggulan.”

Sumber: NU Online

sekitar 20 santri pengurus pesantren di Kabupaten Subang, Sumedang dan Majalengka berkumpul di kantor Iniximindo, Jl. Cipaganti, No.95, Bandung untuk mengikuti workshop membuat website pesantren pada Kamis-Jumat (5-6/3). Kegiatan tersebut terselenggara atas kerja sama antara KH Maman Imanulhaq (Anggota DPR/MPR RI Fraksi PKB) dengan Inixindo.

"Workshop membuat website untuk 20 pesantren dari 3 kabupaten di Jawa Barat ini bertujuan agar pesantren tidak hanya menyerap informasi tapi juga bisa berbagi informasi berupa konten Islam yang toleran yang mengusung spirit perubahan dan perdamaian," ungkap kiai yang menjadi anggota DPR dapil Subang, Majalengka, Sumedang itu.

Selain itu, kata Maman, workshop ini bertujuan agar konten Islam rahmatan lil alamin bisa mengimbangi konten-konten kelompok radikal dan intoleran yang berkembang di internet. "Dua puluh pesantren ini akan jadi pilot project yang kemudian dikembangkan di seluruh pesantren di Indonesia," tambahnya.

Kegiatan ini, tambah dia, sebagai ikhtiar dalam membangkitkan spiritualitas pesantren melalui akurasi data, transparansi fakta, dan informasi yang terbuka dan mencerdaskan.

"Melalui program ini akan meminimalisir pesantren, kiai, santri dan umat dari faham radikal, wawasan sempit, syahwat politik yang naif serta jualan simbol agama untuk kepentingan golongan," katanya.

Dalam workshop itu para pengurus pesantren dilatih secara teori dan praktik dalam membuat website dan akan diberikan sebuah domain dengan alamat http://namapesantren.ponpes.id. Menurut Inixindo (lembaga yang bergerak di bidang teknologi informasi) domain ponpes.id ini adalah domain pertama di Indonesia bahkan di dunia.

Sumber: NU Online

Peserta sayembara logo muktamar NU bernama Zamzami Almakki dari Jakarta, dinyatakan menjadi pemenang Sayembara Logo Muktamar NU. Satu karya dari dua karya yang dia kirimkan ke panitia, ditetapkan sebagai logo resmi Muktamar Ke-33 NU di Jombang, 1-5 Agustus 2015.

Zamzami Almakki (34 tahun) yang berprofesi sebagai dosen Universitas Multimedia Nusantara, Jakarta dan desainer lepas, dipilih dalam rapat pleno dewan juri Sayembara Logo Muktamar NU yang dilaksanakan di gedung PBNU, Kamis (5/3) siang.

Sembilan anggota dewan juri, Slamet Effendi Yusuf, M Imam Aziz, Savic Ali, Nukman Luthfie, Ilham Khoiri, Sa'dullah Affandy, Hamzah Sahal, Ahmad Mauladi, Acep Zamzam Noor, secara bulat menyepakati logo karya Zamzami.

Sebagai pemenang sayembara, Zamzami juga berhak mendapatkan hadiah umroh dari panitia muktamar NU.

Ketua SC Muktamar Ke-33 NU Jombang sekaligus dewan juri sayembara logo H Slamet Effendi Yusuf, menyatakan karya Zamzami Almakki dinilai paling memiliki karakter dari 349 logo yang diterima panitia. Zamzami menyisihkan 349 logo yang dikirim 281 peserta, baik individu maupun lembaga.

Salah seorang dewan juri Ilham Khoiri menguatkan pendapat Slamet Effendi Yusuf bahwa logo karya Zamzami Almakki paling beda, berkarakter, serta mengubah kelaziman desain yang selama ini diimajinasikan kaum Nahdliyin dan pesantren.

"Keistimewaan logo yang dinyatakan menang ini berhasil mengekspresikan tradisi NU atau pesantren menggabungkan dua tradisi, Latin dan Arab dengan seimbang. Angka 33 gabungan aksara Latin dan Arab," tambah Ilham Khoiri, lulusan S2 di bidang seni rupa ITB, Bandung.

Sementara itu Ahmad Mauladi, dewan juri dan panitia Muktamar NU yang menanggungjawabi logo, menyatakan bahwa logo yang ditetapkan sebagai pemenang tidak langsung jadi logo resmi muktamar. Seperti ketentuan sayembara yang tertera di poster, panitia berhak menyempurnakan logo pemenang.

"Sebelum logo diluncurkan, panitia akan menyempurnakan kekurangan-kekurangan logo pemenang. Tentu saja penyempurnaan ini akan didiskusikan dengan pemenang," terang Ahmad Mauladi, desainer dan aktivis NU asal Aceh.

"Logo yang kita tayangkan sekarang, mengiringi pengumuman pemenang ini, adalah logo asli, belum disempurnakan," tambahnya.

Sumber: NU online

Sayembara Logo Muktamar NU ke-33 2015 diikuti oleh 281 peserta, dengan 349 karya. Ketua SC Muktamar NU ke-33 H Slamet Effendy Yusuf mengatakan jumlah peserta membuktikan bahwa gema muktamar sudah bergaung di masyarakat luas.

"Panitia bersyukur dan berterima kasih atas partisipasi masyarakat dari seluruh Indonesia dalam sayembara logo muktamar. Jumlah peserta, yakni 281, membuktikan gema muktamar sudah bergaung di masyarakat luas," terang Slamet Effendy Yusuf sebelum rapat pemenangan sayembara logo, di PBNU, Kamis (5/3) siang tadi.

Slamet menambahkan peserta sayembara ini banyak diikuti oleh kaum muda dari usia SMA, mahasiswa, dan anak muda berusia di di bawah 40 tahun. "Segmen kaum muda ini sudah tepat, kita memang akan banyak melibatkan anakmuda kreatif untuk memperkuat NU ke depan," Slamet Effendy yang juga ketua sayembara logo.

Sejak dibuka pengumuman sayembara logo pada 1 Februari 2015 hingga penutupan tanggal 1 Maret 2015, masuk 281, terdiri dari 280 peserta individu dan satu peserta atas nama lembaga (SM Al-Kaafah Malang).

Peserta terbanyak dari Jawa Timur dengan jumlah 96 peserta, disusul Jawa tengah 79 peserta, Lalu Daerah Istimewa Yogyakarta 31 peserta, Jawa Barat 27 pesarta, DKI Jakarta 18 peserta, Banten 10 peserta, Lampung 6 peserta, Sumatera Selatan 4 peserta, Sulawesi Selatan 4 peserta, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Bali, masing-masing 1 peserta.

Sumber: NU Online