diobrolin.com

Indonesia Ngobrol, Ngobrolin Indonesia

Gus Huda Nawawi Sidoarjo Wafat

- Posted in Viral by

SIDOARJO - Suasana duka menyelimuti kota Sidoarjo dan sekitarnya. Karena saat ini warga Sidoarjo telah kehilangan sosok ulama kharismatik, KH Nurul Huda Nawawi yang menjadi panutan warga Sidoarjo itu menghembuskan nafas terakhirnya, Senin (23/3) sekitar pukul 10.45 WIB.

Kiai yang juga pemangku Pondok Pesantren Al-Falah Siwalanpanji Buduran Sidoarjo itu wafat karena sakit diabet dan sudah komplikasi di usianya ke 56 tahun. Kiai nyentrik ini wafat di kediamannya pagi tadi. Almarhum telah disemayamkan di makam desa setempat di kawasan Siwalanpanji Buduran Sidoarjo hari itu juga sekitar pukul 16:00 WIB.

Ribuan pentakziah dari dalam dan luar Sidoarjo juga berdatangan di kediaman Kiai yang akrab disapa dengan Gus Huda itu. Nampak hadir Wakil Bupati Sidoarjo H MG Hadi Sutjipto, Ketua DPRD Sidoarjo H Sulamul Hadi Nurmawan, Ketua MUI Sidoarjo KH Usman Bachri, Ketua PCNU Sidoarjo KH Abdi Manaf, Kepala Dinas Pendidikan Sidoarjo Mustain Baladan, Ketua Dinas PU Bina Marga Sidoarjo Sigit Setiawan, Ketua KPUD Sidoarjo M Zainal Abidin, dan para santri di Sidoarjo.

Salah satu pegawai di Pondok Pesantren Al-Falah Anip mengatakan, bahwa sebelumnya Gus Huda sempat berpesan kepada putra bungsunya kalau akan bepergian. "Jadi sebelumnya sudah ada tanda-tanda kalau Gus itu mau wafat. Saya sendiri yang tidak pernah mimpi beliau, tiba-tiba kemarin malam mimpi dengannya," ceritanya.

Sementara itu, menurut salah satu mahasiswa Institut Agama Islam Al-Khoziny Buduran Sidoarjo Samsul Arifin menjelaskan, dirinya tidak mendapatkan pesan dari Gus Huda yang menjadi dosen di kampus tersebut.

"Kamis (19/3) lalu, Gus Huda tidak masuk mengajar, kabarnya beliau sakit. Tapi setelah itu tidak ada tanda-tanda lagi kalau beliau akan wafat. Semoga almarhum diterima disisi Allah SWT, diampuni segala dosanya, diterima amal ibadahnya dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan Allah kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi musibah ini," doanya penuh dengan harap.

Sumber: NU Online

JAKARTA - Pendiri Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) KH A. Nuril Huda mendukung sepenuhnya rencana penetapan kembali PMII sebagai salah satu badan otonom NU dalam Muktamar ke-33 di Jombang, 1-5 Agustus nanti.

Menurutnya, garis ideologi NU harus jelas. “Politik dan strategi boleh. Tetapi ideologi tidak boleh miring-miring,” katanya di ruang redaksi NU Online lantai 5 kantor PBNU, Jakarta, Jum’at (20/3).

PMII didirikan pada tahun 1960 oleh para kader IPNU. PMII dimaksudkan sebagai estafet kaderisasi NU di lingkungan kampus pasca-IPNU. “Saat ini hanya saya dan Pak Chalid (Chalid Mawardi) yang masih hidup,” kenang Kiai Nuril yang kini berusia 76 tahun.

“Perjuangan harus ada estafet. Kalau tidak ya NU akan lenyap. Para kader NU yang kuliah di perguruan tinggi yang pinter-pinter itu harus siap menggantikan kepemimpinan senior-seniornya. Dan NU harus terus maju menyuarakan islam rahmatan lil alamin,” tambahnya.

Ia bercerita, awal tahun 1970-an kondisi perpolitikan memang sangat tidak menguntungkan NU sebagai salah satu partai politik. “Ketika itu Golkar sangat marjinal ke NU. Misalnya di Lampung waktu kampanye NU saya mau ditembak polisi. Tapi ini rahasia, jangan bilang siapa-siapa,” katanya bercanda.

Karena itu PMII yang beranggotakan para kader muda NU yang sangat aktif melakukan manuver dengan menyatakan independen dari NU. Dengan cara itu aktivitas PMII lebih leluasa.

“Jadi independen itu sebenarnya hanya pura-pura saja. Itu langkah kita untuk menyelamatkan PMII waktu itu. PMII ya tetap NU, didirikan untuk menjaga kelestarian Ahlusssunnah wal Jama’ah (Aswaja) an-Nahdliyah,” katanya.

Ditambahkan, saat ini dalam suasana politik yang lebih kondusif dan NU telah lepas dari aktivitas politik praktis, PMII tidak perlu ragu untuk kembali ke NU.

“NU akan merangkul anak-anak muda. Ayo butuhnya apa! Lagi pula sekarang kan zamannya anak muda. Saya juga kalau bicara PMII terasa masih muda, dan alhamdulillah masih hidup sampai menjelang Harlah PMII yang ke-55. Ini yang penting!” pungkasnya.

Sumber: NU Online

JAKARTA - Wakil Ketua Umum PBNU H As’ad Said Ali mengungkapkan, ISIS yang kini sedang menjadi isu global merupakan kelanjutan dari organisasi garis keras Al-Qaeda. Dikatakannya, pengaruh paham radikal Al-Qaeda maupun ISIS yang sudah menjalar sekelompok warga bangsa perlu diluruskan terutama terkait tiga hal.
“Tiga hal yang harus diluruskan adalah tentang faham khilafah Islamiyah, jihad, dan pengkafiran,” katanya di Jakarta, Sabtu (21/3).

Pertama soal khilafah islamiyah. Menurut As’ad yang akhir tahun lalu meluncurkan buku “Al Qaeda: Kajian Sosial Politik, Ideologi dan Sepak Terjangnya”, Baik Al Qaeda maupun ISIS menganggap khilafah Islamiyah sebagai satu-satunya sistem politik Islam, sedang sistem selain itu dianggap kafir.

“Bedanya, Al Qaeda masih dalam bentuk wacana, sedangkan ISIS sudah memproklamirkan khilafah,” tambahnya.

Sementara bagi NU, khilafah Islamiyah bukanlah suatu sistem politik atau model negara, tetapi sebagai konsep kepemimpinan seperti dalam Al-Qur’an Surah Al Baqarah Ayat 30.

“Nahdlatul Ulama dan para ulama dari Ormas pendiri lain seperti Muhamadiyah, Sarikat Islam, dan kaum nasionalis lainnya telah menyepakati sistem politik yang didasarkan Pancasila sebagai ijtihad bersama, sehingga tidak memerlukan sistem politik lain,” tambahnya.

Kedua, tentang jihad. Al Qaeda dan ISIS mengartikan jihad dalam arti sempit yaitu hanya perang atau kekerasan. Sedang jihad dalam arti persuasif, pendidikan, dakwah dan kegiatan-kegiatan sosial lain dianggap bukan bagian dari jihad. Pandangan tersebut berbeda secara diametral dengan pandangan mayoritas ulama yang beranggapan bahwa jihad terbesar adalah melawan hawa nafsu.

“Jihad dalam artian perang hanyalah sebagai jenis jihad. Bagi ulama NU, jihad tentu saja tidak bermakna sempit qital (perang: Red), tetapi berarti luas termasuk membangun perdamaian dan ketertiban sebagai landasan peradaban dunia,” katanya.

Ketiga, takfiri atau pengkafiran. Al Qaeda dan ISIS berkeyakinan golongan di luar mereka adalah kafir. Artinya mayoritas umat Islam lainnya adalah kafir. Menurut Al Qaeda dan ISIS, orang kafir tersebut wajib diperangi (dibunuh), kecuali bersedia membayar upeti (jizya).

“Sementara mayoritas ulama berpendapat sebaliknya. Para ulama menganggap bahwa pengkafiran terhadap sesama muslim berarti menghilangkan pluralitas/perbedaaan yang sudah menjadi kodrat manusia,” pungkasnya.

Sumber: NU Online

MATARAM - Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Nusa Tenggara Barat membentuk tim 9 perumus untuk mempersiapkan konsep dan argumentasi Ahlul Halli wal Aqdi yang bakal dibawa ke arena Muktamar ke-33 NU.

Ahlul Halli wal Aqdi adalah mekanisme rekrutmen pemimpin dengan menggunakan semacam tim formatur yang diwacanakan berlaku pada Muktamar NU Agustus mendatang. Mekanisme ini sudah disepakati pada forum Musyawarah Alim Ulama dan Konferensi Besar NU 2014 lalu.

PWNU NTB menunjuk Prof Muslim, mantan ketua PWNU NTB yang saat ini mejadi ketua MUI NTB, sebagai Ketua Penasehat Tim Perumus. Tim ini juga disetujui langsung Ketua PBNU KH Slamet Efendy Yusuf selaku pengarah dalam kunjungannya di Lombok, NTB, Jumat (20/3).

Pembentukan tim 9 merupakan bagian dari rangkaian angenda pra muktamar di NTB yang dijadwalkan berlangsung 9-10 April 2015. Pondok Pesntren Al-Mansuriah yang terletak di Desa Bonder, Kecamatan Praya Barat Daya, Kabupaten Lombok Tengah, ditetapkan sebagai pusat pelaksanaan acara pra muktamar tersebut.

Ketua PWNU NTB yang juga pengasuh Pesantren Al-Mansuriah, TGH Taqiuddin menekankan kepada tim perumus agar bekerja cepat dan ia memberikan batasan waktu rumusan naskah Ahlul Halli wal Aqdi pada 5 April nanti.

“Tema Ahlul Halli wal Aqdi itu sangat berat. Karena menyangkut keberlangsungan organisasi terbesar di Indonesia ke depannya,” kata ketua tim perumus DR H Mutawali. Tim perumus bertugas menghimpun argumentasi dan dalil yang menjelaskan konsep Ahlul Halli wal Aqdi.

Mendengar hal itu, Slamet Efendy Yusuf meyakini tokoh NU di NTB tidak kalah mumpuni dengan tokoh NU di daerah lainnya. Oleh karena itu, pihaknya menunjuk NTB sebagai salah satu lokasi pra muktamar. “Para doktor dan akdemisinya juga banyak (di NTB),” ujarnya.

Sumber: NU Online